Rabu, 01 Oktober 2025

Kisah Lu Bu

 


Lü Bu (Hanzi: 呂布; Pinyin: Lǚ Bù) (153  198), nama lengkap Lü Fengxian, lahir di Wuyuan (sekarang Mongolia Dalam) adalah Panglima jenderal terkenal dari penghujung zaman Dinasti Han dan Tiga Negara.[1] Lyu Bu sering digambarkan dengan ciri khas memakai penutup kepala dengan ekor, dan memiliki kuda bernama Terwelu Merah (赤兔马; Chìtù mǎ) yang dikenal karena daya tahannya dalam pertempuran.[2] Kuda ini berasal dari Fergana daegenda dapat berlari sejauh 1000 li (500 km) dalam satu hari. Terdapat pepatah Tiongkok yang mengatakan, "Ada Lu Bu di antara banyak pria, dan ada terwelu merah di antara banyak kuda".[3] Ia merupakan seseorang yang penuh dengan sifat ambisi dan menghalalkan segala cara untuk mencapainya, dimana ia tidak ragu membunuh kedua ayah angkatnya yaitu Ding Yuan dan Dong Zhuo.

Sebagai sosok yang penuh ambisi dan sangat lihai bertarung, Lü Bu pertama kali mengabdi kepada Ding Yuan, yang kemudian berkomplot bersama He Jin untuk membunuh para kasim istana sepeninggal Kaisar Lingdi dan diangkat menjadi letnan jenderal. Lü Bu kemudian termakan hasutan Dong Zhuo untuk membunuh Ding Yuan yang juga merupakan ayah angkatnya.[4] Setelah Dong Zhuo mengangkat diri sebagai perdana menteri dari Kaisar Xiandi, ia kemudian menjadikan Lu Bu sebagai anak angkatnya dan panglima perang kekaisaran. Ketika para pasukan koalisi dari 18 paduka yang dipimpin Yuan Shao bersatu untuk menyerang Dong Zhuo, Lu Bu dikisahkan berduel dengan Zhang FeiGuan Yu dan Liu Bei dalam Kisah Tiga Negara. Namun peristiwa ini tidak ditemukan dalam Catatan Sejarah Tiga Negara. Dalam serangan ini pasukan Dong Zhuo kalah dan mundur ke Chang An.

Karena sifat Dong Zhuo yang tidak sabar dan bertemperamen kasar, Lu Bu akhirnya membunuh Dong Zhuo setelah dihasut oleh salah satu menteri istana, Wang Yun. Setelah kematian Dong Zhuo, Lu Bu lalu diangkat sebagai Panglima besar kekaisaran. Di dalam Kisah Tiga Negara, Lu Bu diceritakan menjalin hubungan dengan dayang istana bernama Diaochan yang sebelumnya direstui perjodohannya oleh Wang Yun sebagai bapak angkatnya, tetapi hal itu dilakukan sebagai siasat agar dapat menjatuhkan Dong Zhuo. Diaochan yang merupakan anak angkat dari menteri Wang Yun tidak dapat menolak setelah ia ditempatkan di istana selaku dayang-dayang Dong Zhuo. Maka perselisihan sang Jendral dan Perdana Menteri terjadi dan berakhir dengan terbunuhnya Dong Zhuo. Di dalam Kisah Tiga Negara, karakter Diaochan adalah penyelamat dari masalah kekuasaan Dong Zhuo. Namun dalam Catatan Tiga Negara sebenarnya pembunuhan ini sudah lama direncanakan oleh Wang Yun dan menteri-menteri istana lain yang sudah sangat resah dengan kekejaman Dong Zhuo.[5]

Setelah kematian Dong Zhuo, mantan bawahannya yaitu Jendral ke-2 Li Jue dan Jendral ke-3 Guo Si tidak menerima peralihan kekuasaan tersebut dan memimpin pasukan mereka untuk menyerang dan mengusir Lü Bu dari ibu kota Chang An. Wang Yun terbunuh, sementara Lü Bu melarikan diri dalam pengasingan, mencari perlindungan kepada Yuan Shao, tetapi karena sikapnya yang congkak dan mengancam terhadap keluarga Yuan, Yuan Shao berencana untuk membunuh Lu Bu namun gagal.[6] Ia akhirnya menyusun kekuatan lalu menyerang provinsi Xu yang dikuasai Liu Bei, berhasil merebut kota Xiapi yang saat itu pengamannya lemah karena Liu Bei sedang menghadapi pasukan Yuan Shu di selatan. Liu Bei lalu mundur ke Xiaopei, mencari perlindungan kepada Cao Cao.

Pada tahun 198, aliansi Cao Cao, Liu Bei dan Yuan Shu menyerang Xiapi dan memukul mundur pasukan Lü Bu terus menerus serta akhirnya mengepung pasukan Lu Bu selama 3 bulan. Lü Bu dengan moral juang pasukannya yang rendah diperparah dengan pengkhianatan bawahannya, Hou ChengSong Xian dan Wei Xu. Akhirnya Lu Bu tertangkap oleh Cao Cao dan memohon kepadanya agar menjadi bawahanya. Namun Liu Bei mengingatkan Cao Cao bahwa Lu Bu tidak dapat dipercaya dan membiarkannya hidup sangat berbahaya.[7] Lu Bu kemudian digantung sampai mati oleh Xu Huang. Hukuman ini dilakukan untuk membuat malu Lu Bu, karena biasanya hukuman gantung pada zaman tiga negara diperuntukkan pada perempuan, sedangkan laki-laki dihukum mati dengan cara dipenggal.[8] Bawahan Lu Bu, Gao Shun dengan sukarela menyerahkan kepalanya untuk dipenggal sedangkan bawahan lain Zhang Liao memutuskan untuk mengabdi pada Cao Cao. Dalam Kisah Tiga Negara, kuda terwelu merah sendiri setelah beberapa waktu dihadiahkan kepada Guan Yu.[9]


Selasa, 30 September 2025

kisah Qin Shi Huang


Qin Shi Huang (Hanzi始皇pengucapan; Februari 259[e] – 12 Juli 210 SM) adalah pendiri Dinasti Qin dan kaisar Tiongkok pertama.[9] Dari mempertahankan gelar "raja" (wáng ) yang diadopsi oleh penguasa Shang dan Zhou sebelumnya, ia mengadopsi gelar "kaisar" yang ia ciptakan (huángdì 皇帝), yang akan digunakan terus-menerus oleh raja-raja di Tiongkok selama dua milenium berikutnya.

Lahir di Handan, ibu kota Zhao, sebagai Ying Zheng (嬴政) atau Zhao Zheng (趙政), Orang tuanya adalah Raja Zhuangxiang dari Qin dan Ibu Suri Zhao. Pedagang kaya Lü Buwei membantunya menggantikan ayahnya sebagai raja Qin, setelah itu ia menjadi Raja Zheng dari Qin. Pada tahun 221 SM, ia telah menaklukkan semua negara-negara yang berperang lainnya dan menyatukan seluruh Tiongkok, dan ia naik takhta sebagai kaisar pertama Tiongkok. Selama masa pemerintahannya, para jenderalnya memperluas wilayah negara Tiongkok secara besar-besaran: kampanye di sebelah selatan Chu. Chu secara permanen menambahkan wilayah Yue di Hunan dan Guangdong ke dalam Sinosfer, dan kampanye Qin melawan Xiongnu di Asia Dalam berhasil menaklukkan Lingkar Ordos dari Xiongnu yang nomaden, walaupun Xiongnu kemudian bersatu di bawah komando Modu Chanyu.

Qin Shi Huang juga bekerja sama dengan menterinya Li Si untuk memberlakukan reformasi ekonomi dan politik besar yang bertujuan untuk menstandardisasi berbagai praktik negara Tiongkok awal. Dia secara tradisional dikatakan telah melarang dan membakar banyak buku serta mengeksekusi para sarjana. Proyek pekerjaan umum yang dikerjakannya mencakup penggabungan beberapa tembok negara menjadi satu Tembok Besar Tiongkok dan sistem jalan raya nasional baru yang besar, serta mausoleum seukuran kota yang dijaga oleh Tentara Terakota seukuran manusia. Ia memerintah hingga meninggal pada tahun 210 SM, selama kunjungan kelima di Tiongkok timur.[10]

Qin Shi Huang sering digambarkan sebagai seorang tiran dan penganut Legalis yang ketat—karakterisasi yang sebagian berasal dari penilaian pedas yang dibuat selama Dinasti Han yang menggantikan Qin. Sejak pertengahan abad ke-20, para sarjana mulai mempertanyakan evaluasi ini, yang memicu diskusi besar tentang sifat sebenarnya dari kebijakan dan reformasinya. Menurut pakar sinologi Michael Loewe "sedikit orang yang akan menentang pandangan bahwa pencapaian-pencapaian pada masa pemerintahannya telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada seluruh sejarah Tiongkok setelahnya, menandai dimulainya suatu zaman yang ditutup pada tahun 1911".[11]

Masa kekuasaan

Pada tahun 247 SM, Raja Qin yang bernama Yi Ren meninggal. Sebelum meninggal, Yi Ren berusaha menaklukkan enam kerajaan lain untuk menyatukan Tiongkok. Namun usaha tersebut gagal hingga ia mengalami kematian. Posisi Raja Qin kemudian diberikan kepada Yin Zheng. Ketika menjadi Raja Qin, Yin Zheng masih berusia 13 tahun. Karena itu, posisi sebagai kepala pemerintahan diberikan sementara kepada Lu Buwei hingga Yin Zheng berusia dewasa.[12]

Pada usia 22 tahun, Yin Zheng berkuasa penuh sebagai Raja Qin atas Dinasti Qin. Ia kemudian memulai Perang Penyatuan Qin untuk menjadikan keenam kerajaan lain di Tiongkok berada dalam kekuasaannya. Strategi yang diterapkannya ialah bersahabat dengan kerajaan yang jauh dan berperang dengan kerajaan yang dekat. Perang Penyatuan Qin dimulai pada tahun 230 SM dan berakhir pada tahun 221 SM dengan keenam kerajaan lain di Tiongkok berhasil ditaklukkan dan dsatukan dalam kekuasaan Dinasti Qin.[13]

Kematian

Kaisar Pertama wafat saat melakukan ekspedisi ke seluruh negeri. Perjalanan ini dilakukan untuk mengambil hati rakyat dan para adipati serta pangeran dari negara-negara yang ditaklukannya. Di tengah perjalanan ia bertemu kembali dengan Xu Fu, seorang yang diperintahkannya untuk mencari "obat keabadian" atau disebut juga "obat panjang umur". Untuk menghindari kemarahan sang kaisar, Xu Fu berkelit dengan mengatakan bahwa perjalanan untuk mencari obat tersebut sangat sulit, karena obat tersebut berada di puncak gunung sebuah pulau di tengah lautan. Xu Fu berencana menghindar dari tugas kaisar tersebut dengan mengatakan bahwa kaisar harus menangkap seekor ikan raksasa dahulu, tetapi dengan berani kaisar berhasil memanah seekor ikan raksasa dan Xu Fu harus menuruti tugas kaisar. Bagaimanapun juga Xu Fu yang telah memprediksi bahwa ia tidak akan bisa menemukan obat keabadian dan jika ia pulang dengan tangan hampa, maka kaisar pasti akan membunuhnya. Ia dengan senang hati menerima tugas dari kaisar tersebut, dengan syarat kaisar menyertakan 500 prajurit dalam perjalanannya, dikarenakan perjalanan untuk mengambil obat abadi itu akan menemui banyak rintangan dan halangan seperti iblis-iblis ataupun siluman. Namun Xu Fu berlayar dan tidak pernah kembali. Diperkirakan Xu Fu mendarat di Jepang.

Kaisar wafat dan menginginkan putera pertama bernama Fusu yang menggantikannya. Namun pesan kaisar pertama tersebut tidak pernah sampai, karena Zhao Gaokasim kepercayan sekaligus penyampai pesan terakhir kaisar pertama bersekongkol dengan Li Si untuk mengubah pesan kaisar pertama menjadi mengangkat anak ke-26 kaisar, Huhai menggantikan ayahnya dan menyuruh Fusu serta Jenderal Meng Tian bunuh diri dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Zhao Gao melakukan hal ini karena ia ingin mempertahankan kedudukannya, karena ia akan dicopot dari jabatannya jika ketahuan suka menjilat dan korup oleh Fusu. Sedangkan Li Si pernah berseteru dengan Fusu saat menangani masalah cendekiawan aliran Konfusius.

Kisah Lu Bu

  Lü Bu   ( Hanzi : 呂布;   Pinyin : Lǚ Bù) ( 153   –   198 ), nama lengkap   Lü Fengxian , lahir di   Wuyuan   (sekarang   Mongolia Dalam ) a...